DALAM diskusi bertajuk Kalender Tengger & Pengetahuan Adat: Menjaga Ruang Hidup melalui Warisan Budaya, sebuah doa yang diucapkan Romo Eko Warnoto, Ketua Paruman Dukun Pandita Tengger Brang Kulon, menjadi pengingat kedekatan manusia dengan Tuhan. Waktu adalah sejarah, dan orang Tengger menempatkan sejarahnya dengan mencatatkan waktu dalam bentuk kalender Tengger.
Romo Eko Warnoto, yang akrab disapa Romo Eko menjelaskan, ada 12 bulan dalam penanggalan tersebut terdiri atas Kasa (pertama), Karo (kedua), Katelu (ketiga), Kapat (keempat), Kalima (kelima), Kanem (keenam), Kapitu (ketujuh), Kawolu (kedelapan), Kasanga (kesembilan), Kasapuluh (kesepuluh), Desta (kesebelas), dan Sadha (kedua belas).
Contoh bulan pada kalender Tengger, Mangsa Katelu (ketiga) misalnya, dimulai pada 13 Agustus sampai 11 September. Lalu Mangsa Karo (kedua), dimulai 11 Juli sampai 12 Agustus kalender masehi. Setiap penanggalan ini berkaitan juga dengan pencatatan fenomena atau siklus alam. Inilah yang menjadi rujukan mitigasi cara hidup orang Tengger.
Mangsa Karo, dalam kepercayaan masyarakat Tengger, dimaknai sebagai waktu bagi bumi untuk beristirahat dan memulihkan dirinya. Pada bulan ini, aktivitas bercocok tanam dihentikan sementara, memberi ruang bagi masyarakat untuk menikmati hasil panen sekaligus memberi kesempatan bagi alam untuk memulihkan keseimbangannya.
BACA JUGA : Menjaga Adat Tengger Sebelum Semuanya Hilang
Pada Mangsa Karo, orang Tengger mencatat tanda alam, yaitu panas dan kering. Pada saat itu, hama pertanian yang muncul adalah kutu putih, belalang dan ulat bor. Di Mangsa ini, petani Tengger dianjurkan mulai mempersiapkan tanamam. Inilah yang membuat mereka tidak menanam dan membiarkan tanah pulih.
Sedangkan pada Mangsa Katelu, tanda alam yang dibaca adalah tanah mulai subur dan hujan mulai turun. Petani Tengger mulai menanam singkong, kacang tanah, ubi jalar, jagung, kentang dan gembili. Mereka sudah menyiapkan mitigasi hama yang muncul pada bulan itu. Hama tersebut adalah ulat bor, belalang dan wereng. Mereka biasa menggunakan pestisida organik, perangkap belalang dan tanaman pengusir hama.
Pada Mangsa Karo, masyarakat Tengger memperingatinya dengan sebutan Yadnya Karo. Kaloro atau Karo itu berarti dua orang. Jadi asal usul terjadinya, karena ada laki-laki dan perempuan. Di dalam rangkaiannya, tersimpan ajaran Sangkan Paraning Dumadi, sebuah asal-usul manusia dan alam semesta. “Kami menghormati kehidupan,” kata Romo Eko.

Ia menyampaikan, dalam kehidupan masyarakat Tengger, terdapat tiga hubungan utama yang menjadi landasan untuk menjaga keseimbangan kehidupan dalam Yadnya Karo. Ketiganya adalah hubungan manusia dengan Sang Pencipta (parahyangan), hubungan manusia dengan sesama (pawongan), serta hubungan manusia dengan alam (palemahan).
Sebelum memanen, manusia harus terlebih dahulu menanam agar keseimbangan alam tetap terjaga. Sebab, ketika hutan digunduli dan alam terus dieksploitasi, dampaknya akan kembali kepada manusia, salah satunya melalui bencana banjir. Alam harus diperlakukan sebagaimana manusia ingin diperlakukan, yakni dijaga, dirawat, dan tidak dirusak.
Pranata Mangsa
Dalam kepercayaan masyarakat Tengger masih menggunakan Pranata Mangsa sebagai pedoman ramalan cuaca berdasarkan rotasi matahari, bulan, dan bumi yang telah dibuat nenek moyang Indonesia sejak tahun 900 SM masa Mpu Hubayun. Ramalan kuno ini masih digunakan para sesepuh di berbagai daerah termasuk Jawa dan Bali.
“Jadi jadwal tanamnya mengikuti kalender Tengger yang kami sebut Pranoto Mongso berbasis kalender Tengger. Pranoto Mongso di Indonesia banyak keluaran Bali, keluaran Jogja, Jawa Tengah sendiri. Nah, Jogja, Jawa Tengah keluarannya Pakubuwono III itu basisnya dari Sultan Agung yang pakai Hijriah,” ujar Yuliati Umrah, Direktur Eksekutif Yayasan Arek Lintang (ALIT) Indonesia.
Yuliati dan tim Yayasan ALIT Indonesia, sudah beberapa tahun ini melakukan riset dan pencatatan kalender Tengger. Ia mengungkapkan, perhitungan waktu pada kelender Tengger, memadukan sistem lunar dan solar. Dalam perhitungannya, fase bulan turut menjadi penanda waktu.
BACA JUGA : Yang Hilang dari Bromo, tapi Bukan Keindahannya
Ia menilai, Pranata Mangsa menjadi sumber pengetahuan dan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu, ia buktikan melalui praktik bercocok tanam yang mengikuti kalender musim yang telah ditentukan. Menurutnya, pengetahuan tersebut membantu masyarakat menentukan waktu yang tepat untuk menanam dan menyesuaikan aktivitas pertanian dengan perubahan musim.
“Artinya kalau menghitung dengan benar sesuai harmoni, kita bisa panen padi pakai galon. Artinya, kita nrimo ing pandum yang dimaksud adalah ya sudah kalau dikasih hari baik, ya ikut saja. Dan ini kami melakukan proses riset tidak hanya mencatat omongannya Romo Eko, tapi dicoba ditanam,” imbuhnya.
Pembagian musim tersebut tidak sekadar menjadi penanda waktu, tetapi turut membentuk pola kehidupan masyarakat. Setiap musim menjadi dasar bagi masyarakat dalam beradaptasi dan mengatur berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari tradisi dan budaya, pertanian, kelautan, perawatan keluarga, pengobatan, spiritualitas, pendidikan, hingga pengelolaan habitat dan tempat tinggal.
Dalam diskusi ini, peneliti post-doctoral KITLVY Leiden, Adrian Perkasa menegaskan, pengetahuan tentang mongso ini memang tidak bisa terlepas dari pengetahuan masyarakat Tengger sendiri. Sejak zaman Ki Dada Putih, pengetahuan itu terus-menerus dilestarikan dan dikembangkan.
“Menariknya, masyarakat Tengger memang memiliki otonomi sejak dulu. Walaupun ada kerajaan-kerajaan seperti Majapahit yang pada zaman keemasannya disebut mampu menguasai wilayah yang luas, pengaruhnya cukup dihormati di Tengger, tetapi masyarakat Tengger tetap memiliki cara dan pengetahuannya sendiri. Begitu pula pada masa awal kolonial, masyarakat Tengger tetap mempertahankan caranya sendiri,” ujarnya.
Pranata Mangsa sebagai Ilmu Titen
Pranata Mangsa memiliki penerapan yang berbeda di setiap daerah. Dikenal sebagai bentuk kearifan lokal, sistem ini tidak hanya digunakan untuk membaca perubahan musim, tetapi juga menentukan waktu bercocok tanam, melaut, hingga menjalankan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Lucy Dyah, dosen Antropologi Universitas Airlangga menjelaskan, ilmu titen yang digunakan masyarakat Tengger tidak sekadar berkaitan dengan pembacaan alam, tetapi juga mencerminkan hubungan kosmologis antara manusia dan alam, hubungan antar manusia serta manusia dengan buminya.
“Masyarakat Jawa Kuno terutama Tengger, aktif religio magis-nya itu selalu menyatu dan kuat, tidak mungkin orang itu tidak dipengaruhi sesuatu yang kuat di makrokosmos dan mikrokosmos, itu selalu ada,” kata Lucy.
BACA JUGA : Karhutla Bromo dan Kebisuan Titik Api PSN
Konsep tersebut berkaitan dengan hubungan makrokosmos dan mikrokosmos, di mana unsur abiotik, biotik, dan manusia menjadi satu kesatuan. Ia menambahkan, masyarakat Tengger masih memiliki ikatan yang kuat dengan leluhurnya, yang tercermin dari sikap penghormatan dan kehidupan religius yang terus dijalankan.
Bertani untuk Keseimbangan Alam
Fenomena menurunnya minat generasi muda terhadap pertanian dinilai dapat mengancam keberlanjutan budaya masyarakat Tengger. Salah satu peserta diskusi, Ida, mengkhawatirkan keberlanjutan sektor pertanian yang kini semakin jarang diminati generasi muda.
Booming industri wisata membuat perubahan dalam kehidupan masyarakat tengger. Banyak masyarakat Tengger yang tergiur ikut menjalankan usaha pariwisata. Mulai persewaan rumah, kendaraan, juru foto sampai menanam tanaman tertentu untuk kepentingan hotel-hotel besar.
“Bagaimana solusi dari para petani di Bromo untuk generasi muda ini tetap tertarik dengan pertanian karena kalau enggak kan akhirnya punah?” ungkap Ida. Kekhawatiran ini dimulai dari booming parwisata yang membuat kawasan Bromo hanya dikenal semata-meta keindahan alamnya dengan mengabaikan eksistensi masyarakat adatnya.

Bagi Romo Eko, masyarakat Tengger bertani tidak sekadar menjadi pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, melainkan bagian dari upaya menjaga keseimbangan alam. Petani dianggap memiliki peran penting dalam merawat lingkungan, baik melalui pertanian sayur maupun penanaman pepohonan.
Prinsip tersebut kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya. Masyarakat Tengger memandang, apapun pekerjaan yang dijalani, mereka tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam. Karena itu, berbeda dengan kekhawatiran mengenai alih fungsi lahan akibat berkurangnya generasi muda yang terjun ke pertanian.
Masyarakat Tengger berusaha keras perubahan sosial dan ekonomi di ruang hidup mereka tidak menggeser adat dan tradisi yang diwariskan leluhur. Saat ini, kata Romo Eko, banyak pemuda Tengger yang ikut menggeluti usaha pariwisata tetapi tetap hidup sebagai petani. Sebab, ritual-ritual adat Tengger selalu berkaitan dengan dunia pertanian.
